Pedih dan perih ini harus kurasa
karena hidup tak melulu manis
pahitnya hidup membuatku bisa merasakan manisnya dunia
terkadang ingin sembunyi
namun sekali lagi ... hidup tak melulu manis
***telan semua pilmu***
Tetes aku bertetesan. Hembus aku berhembusan. Saat kulewati detak. Meranggas ia meninggalkan dewa. Di pinggir pilar ia bersinar mungil. Semua berpacu. Semua beradu. Mengejar waktu yang tak pernah berhenti. Di temaram senja telah kulukiskan. Sebuah getar yang berwana jingga. Di saat putaran roda menjelang tiba
Pedih dan perih ini harus kurasa
karena hidup tak melulu manis
pahitnya hidup membuatku bisa merasakan manisnya dunia
terkadang ingin sembunyi
namun sekali lagi ... hidup tak melulu manis
***telan semua pilmu***

‘aku merintih di balik tembok penghalang itu”
Aku ingin berteriak sekencang mungkin, berharap tembok itu akan runtuh
Sekuat tenaga aku ingin mendobraknya…namun sia-sia.
Kita terperangkap dalam ruang kosong yang hanya ada satu tembok di antaranya.
Aku di sini merintih…memanggilmu.
Berharap suatu ketika tembok itu akan runtuh…
Ahhh, seandainya saja ada yang mengerti
Tapi kepada siapa aku harus meminta , akupun tak tahu.
Aku g yakin ada yang bisa membantu aku.
Apa mungin cinta kita ditakdirkan hanya sampai di sini?
Ouh, malang benar nasibku
Mencintai dan tak mungkin memiliki.
Yang aku pikirkan kini, dengan cara apa aku bisa melupakanmu?
Aku g mungkin sanggup
Karena kau tahu…dirimu selalu di hatiku sampai kapanpun meskipun kau bukan milikku.
(11 Feb 09)
